Epos Atrahasis, Sumeria

Leave a comment

21/04/2014 by Ng William

Udah baca pembukaan gua tentang Bangsa Sumeria? Baca disini.

Salah satu karya sastra (sekaligus kitab) milik bangsa Sumeria yang di tulis (di ukir lebih tepatnya) di atas tablet batu.

Mungkin 8000 tahun yang sebelumnya gua tulis terlalu berlebihan, karena tahunnya tidak sesuai dengan sumber lain yang gua dapat.

 


Epos Atrahasis

Atrhasis I: Penciptaan Manusia

Cerita dimulai jauh sebelum Atrahasis muncul di tempat kejadian, namun. Ini dimulai dengan para dewa menggali parit. Belum ada manusia disini, sehingga para dewa harus melakukan pekerjaan:

The gods had to dig out the canals 
Had to clear channels, the lifelines of the land, 
The gods dug out the Tigris river bed 
And then they dug out the Euphrates

Setelah 3.600 tahun pekerjaan ini dilangsungkan, para dewa akhirnya mulai mengeluh. Mereka memutuskan untuk mogok, membakar alat-alat kerja mereka dan mengepung tempat tinggal (temple) salah satu dewa besar, Enlil. Tangan kanan Enlil, Nusku membangunkan Enlil dan memberitahu Enlil tentang massa yang marah di luar temple-nya. Enlil ketakutan. (Wajahnya digambarkan sebagai “pucat seperti tnaman tamariska.”) Nusku menyarankan Enlil untuk memanggil para dewa besar lainnya, khususnya Anu (dewa langit) dan Enki (dewa yang pintar, dewa air). Anu menyarankan Enlil untuk memastikan siapa biang keladi pemberontakan. Mereka (Anu, Enlil, Enki) mengirim Nusku untuk keluar dan bertanya kepada para massa siapa pemimpin mereka. Massa menjawab, “Setiap orang dari kita (para dewa) telah menyatakan perang!”

Karena para dewa besar sekarang melihat bahwa pekerjaan para dewa-dewa (massa) “itu terlalu keras”, mereka memutuskan untuk mengorbankan salah satu pemberontak untuk kebaikan semua. Mereka akan mengambil satu dewa, membunuhnya, dan menciptakan manusia. Mereka mencampur daging dan darah dewa dengan tanah liat:

Belit-ili the womb-goddess is present, 
Let the womb-goddess create offspring, 
And let man bear the load of the gods!

Setelah Enki memerintahkan mereka untuk melakukan ritual pemurnian di hari pertama, ketujuh dan kelima belas setiap bulan, para dewa menyembelih Geshtu-e, “dewa yang memiliki kecerdasan” (namanya berarti “telinga” atau “kebijaksanaan”) dan membentuk manusia dari darahnya dan beberapa tanah liat. Setelah dewi kelahiran mencampur tanah liat, semua dewa-dewa meludah di atasnya. Kemudian Enki dan dewi kelahiran lalu mengambil tanah liat ke dalam sebuah “ruang nasib” di mana:

The womb-goddesses were assembled 
He [Enki] trod the clay in her presence; 
She kept reciting an incantation, 
For Enki, staying in her presence, made her recite it. 
When she had finished her incantation, 
She pinched off fourteen pieces of clay, 
And set seven pieces on the right, 
Seven on the left. 
Between them she put down a mud brick.

Penciptaan manusia tampaknya di sini di analogi kan mirip dengan proses pembuatan batu bata: tanah liat di remas-remas dan kemudian dibentuk menjadi batu bata. Di sini, tujuh buah di sebelah kanan menjadi laki-laki dan tujuh buah batu bata di sebelah kiri menjadi perempuan. Bata antara keduanya menjadi simbol janin, dan ketika potongan-potongan kecil dari tanah liat ini siap untuk “lahir,” kelahiran mereka digambarkan seperti ini:

When the tenth month came, 
She [birth-goddess] slipped in a staff and opened the womb.

Untuk melihat apakah “calon manusia” siap untuk dilahirkan, para dewa menggunakan tongkat untuk melihat apakah janin di dalam rahim sudah membesar dan siap untuk dilahirkan. Setelah ketujuh laki-laki dan perempuan dilahirkan, dewi kelahiran memberikan peraturan untuk mereka:

They should last for nine days during which a mud brick should be put down.

After nine days, the husband and wife could resume conjugal relations.

Atrahasis II: Penyakit, Kelaparan, dan Banjir

Solusi yang dibuat untuk mengatasi kesulitan sebelumnya berjalan baik, manusia membuat cangkul dan sekop, lalu menggali kanal yang besar, mereka bisa mencari makan untuk diri sendiri, bahkan juga bisa memberi persembahan untuk para dewa, Tetapi setelah 1200 tahun populasi meningkat,dan membuat Enlil sulit tidur:

The country was as noisy as a bellowing bull 
The God grew restless at their racket, 
Enlil had to listen to their noise. 
He addressed the great gods, 
‘The noise of mankind has become too much, 
I am losing sleep over their racket. 
Give the order that surrupu-disease shall break out.

Wabah merebak, Atrahasis si bijak meminta tolong kepada dewa yang disembah nya, Enki. Enki menasihati Atrahasis untuk membuat orang-orang berhenti berdoa kepada dewa mereka masing-masing, dan mulai berdoa kepada dewa bencana, Namtar. Namtar begitu malu akan hal ini, sehingga ia menggosok tangannya untuk mengakhiri wabah yang terjadi.

Setelah 1200 tahun, manusia kembali berkembang populasi nya, hingga pada satu titik mereka membuat gaduh/riuh yang melanggar peraturan Enlil tentang suara bising. Enlil memutuskan untuk membuat kekeringan di bumi untuk mengurangi populasi manusia, Enlil menyuruh Adad (dewa petir dan hujan) untuk menahan turunnya hujan. Enki kembali menasihati Atrahasis untuk membuat orang-orang berdoa kepada dewa yang bersangkutan dengan wabah yang terjadi, umat manusia pun beramai-ramai berdoa kepada dewa Adda. Addad sangat malu, sehingga ia tak tega untuk menurunkan hujan, maka turunlah hujan.

Setelah 1200 tahun, kebisingan yang diciptakan manusia menjadi sangat luar biasa. Sekarang, Enlil ingin memastikan tidak akan ada dewa lagi yang dapat menghalangi keputusannya untuk membinasakan manusia. Anu dan Adad akan menjaga langit, Enlil menjaga tanah, Enki menjaga air. Sehingga tidak ada sumber makanan yang sampai ke tangan umat manusia. Dan sebagai tambahan, Enlil membuat keputusan untuk membuat manusia tidak dapat menghasilkan keturunan lagi, “Biarkan rahim terlalu sempit untuk bayi keluar.” Dan semua itu semakin buruk:

When the second year arrived 
They had depleted the storehouse. 
When the third year arrived 
The people’s looks were changed by starvation. 
When the fourth year arrived 
Their upstanding bearing bowed, 
Their well-set shoulders slouched, 
The people went out in public hunched over. 
When the fifth year arrived, 
A daughter would eye her mother coming in; 
A mother would not even open her door to her daughter. . . . 
When the sixth year arrived 
They served up a daughter for a meal, 
Served up a son for food.

Setelah beberapa lama, Enki ingin menggagalkan bencana kelaparan dengan memberi ikan-ikan dalam jumlah besar untuk umat manusia makan. Enlil yang mengetahui ini marah besar dengan Enki yang melanggar keputusan yang disetujui para dewa untuk menghilangkan umat manusia. Akhirnya Enlil memutuskan 2 hal: Enki harus menciptakan wabah banjir besar, dan bersumpah tidak akan mengganggu pemusnahan massal. Enki menolak menciptakan banjir besar (“Mengapa Aku harus menggunakan kekuatanku untuk melawan umat-Ku?”) Meski akhirnya Enki tetap menciptakan banjir besar tetapi, ia menolak melakukan sumpah.

(Artefak tablet batu rusak disini dan di lanjut dengan..)

Enki memperingatkan Atrahasis tentang banjir besar yang akan datang. Sebenarnya, Enki memperingati Atrahasis lewat dinding rumah gubuk nya (entah bagaimana caranya) agar tidak melanggar sumpahnya dengan Enlil:

Wall, listen constantly to me! 
Reed hut, make sure you attend to all my words! 
Dismantle the house, build a boat, . . . 
Roof it like the Apsu 
So the sun cannot see inside it! 
Make upper decks and lower decks, 
The tackle must be very strong, 
The bitumen [a kind of tar] strong . . . 

Atrahasis berkumpul dengan tetua dari Shuruppak dan menyampaikan keinginan untuk meninggalkan kota, Atrahasis beralasan bahwa Enki dan Enlil saling membenci satu sama lain dan Enki memerintahkan untuk pergi ke tepi air. Lalu, Atrahasis membangun perahu di tepi sana dan mengisinya dengan setiap jenis binatang dan keluarganya. Lalu, Adad memulai dengan menciptakan petir, dan memulai mendatangkan kiamat (hatinya sakit menghancurkan umatnya dan muntah-muntah). Atrahasis menutup tiap sudut perahunya dengan aspal. Petir dan banjir yang datang lebih besar daripada persetujuan yang dilakukan para dewa.

Like a wild ass screaming the winds howled 
The darkness was total, there was no sun. . . . 
As for Nintu the Great Mistress, 
Her lips became encrusted with rime. 
The great gods, the Annuna, 
Stayed parched and famished. 
The goddess watched and wept . . .

Ibu Dewi (yang terbesar) mengeluh tentang jahatnya Enlil dan juga kepada Anu yang buruk dalam mengambil keputusan, ia menangis untuk para manusia yang meninggal seperti “capung mati yang menyumbat sungai.” Ia juga “Merindukan bir (dengan sia-sia).”

Giliran para dewa yang kelaparan (tidak ada persembahan untuk mereka, seperti yang biasa dipersembahkan umat manusia untuk mereka), “Seperti domba, mereka hanya mengembik saja.”

Setelah tujuh hari, tujuh malam akhirnya hujan berhenti, setelah banjir surut, Atrahasis turun dari kapal dan menawarkan persembahan. Dewa yang lapar, mencium bau harum dan berkumpul (seperti lalat yang berkumpul di makanan). Ibu dewi berjanji dengan di genggam kalung nya, bahwa ia tak akan pernah lupa dengan banjir yang terjadi.

Enlil yang melihat kapal itu selamat menjadi marah, ia tahu bahwa hanya Enki yang cukup pintar untuk membuatnya tertipu. Enki mengaku bahwa ia memperingatkan Atrahasis, Enki beralasan “Saya hanya meyakini bahwa kehidupan itu tetap ada.”

(Artefak tablet batu rusak disini dan di lanjut dengan..)

Enki membujuk Enlil untuk membuat rencana yang lebih manusiawi dalam mengatasi populasi dan kebisingan yang diciptakan manusia. Enki dan dewi kelahiran, Nintu memutuskan bahwa sepertiga dari wanita yang melahirkan tidak akan sukses.

A pasittu demon will “snatch the baby from its mother’s lap.”

Mereka juga membuat beberapa kasta agar wanita yang di temple tidak diperbolehkan memiliki anak.


Apakah ini adalah cerita yang menarik? Cerita bisa jadi adalah sastra tertua buatan manusia yang ada di bumi, yang mungkin saja benar adanya. (lebih tua dari injil di Alkitab maupun surat nabi di Al-quran)

Sangat disayangkan ada beberapa bagian artefak yang memang rusak.

Sebagai tambahan (dari sumber yang berbeda), dari perjanjian Me (Tablet of Destiny) yang diciptakan Enki dan Enlil, yang berisi aturan-aturan dasar alam semesta dan untuk mengurangi populasi manusia di ciptakan malapetaka, wabah, penyakit dan lain-lain.

(Dan mungkin, penuaan yang lebih cepat dan kematian. Karena disebutkan bahwa Atrahasi hidup sampai beribu-ribu tahun lamanya)

Cerita dari Sumeria masih ada beberapa sebenarnya, bahkan menurut gua beberapa cerita di injil terilhami dari cerita-cerita milik bangsa Sumeria.

Terjemahan selanjutnya di lanjutkan sesuai niat dari gua.

Advertisements

Tinggalkan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

April 2014
M T W T F S S
« Mar   May »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  
%d bloggers like this: